Minggu, 13 Maret 2016

                      Abang kemana aja?
      Era ketenaran telah berlalu, masa kejayaan kian surut, seperti kata orang pesta pasti akan berakhir.
kira-kira hal inilah yang menimpa BEM fakultas ekonomi dan bisnis, sudah sekian lama tak berpenghuni, pintu ditutup dengan gembok yang besar, sampah berserakan dimana-mana, debu bertaburan dan dihiasi sarang laba-laba.
siang tak berpenghuni malam tampak sangat horor.
Sebagai pendatang baru, saya cukup bingung ingin belajar berorganisasi namun yang hanya ada sebuah wadah yang tidak memiliki aktor-aktor yang bisa dijadikan figur untuk belajar. Kendatipun mahasiswa yang ada sangat banyak khususnya fakultas ekonomi tapi hampir tidak ada yang berfikir ingin mengembangkan salah satu organisasi ini, disatu sisi ketika sekelompok mahasiswa dari organ tertentu berniat kearah itu tapi hanya menuai kritik dan larangan dengan dalih ini bukan tempat yang tepat untuk itu. setelah apa yang di perintahkan dilakukan malah menjadi semakin sepi.
Nah maumu apa gerang?????..

Hal yang sangat memalukan dan memilukan mengingat fakultas ini dengan
Mahasiswa terbnyak dibanding fakultas lain yang relatif sedikit tapi bem nya cukup stabil dan ramai. Saya jelas cemburu terhadap bem-bem lain yang cukup antusias untuk mengaktifkan bem mereka. Sebagai pendatang baru tentunya sangat awam dengan organisasi maka jangan salahkan ketika nantinya tidak akan ada pengurus berikut nya dikarenakan kepengurusan yang sekarang hilang tidak ada kabar. Sebagian sibuk dengan kepentingan individu masing-masing, sampai lupa ada tanggung jawab lain yang masih perlu untuk diemban.

Kebobrakan yang terjadi bisa jadi dikarenakan kurangnya perhatian kita kepada kelanjutan sebuah organisasi. Ketika ini tidak secepatnya diatasi maka bisa jadi bem ini akan fakum dan mati sampai seterusnya.
Setiap semester kita menyetor uang UKM, tapi kalian rela uang tersebut hanya membengkak di pihak universitas, hak kita sebagai mahasiswa telah dieksploitasi sedemikian rupa tapi kita tak kunjung sadar untuk bergerak melawan itu,   salah satu caranya adalah dengan lagi-lagi mengaktifkan organisasi-organisasi yang ada. Kita sangat dirugikan dengan membayar ukm tersebut tapi tidak diimbangi dengan kegiatan-kegiatan yang harusnya kita adakan sebagai mahasiswa yang aktif berkuliah.
Entah kita sadar atau tidak tapi yang jelas kita telah ditipu dengan cara yang sangat halus, dan kezaliman itu secara tidak langsung kita dukung dengan cara memberika apa yang mereka minta tanpa meminta apa yang menjadi hak kita.
Entah kita bodoh atau sombong tapi telah nyata kita telah dibodoh-bodohi dengan cara yang sangat pintar.
saya sadar akan hal itu, saya tersiksa akan hal itu. Bukan kah kita tahu kita diseru menyuarakan kebenaran dan mencegah kepada kemungkaran, tapi kita hanya terdiam melihat sebuah kemungkaran.

bacalah dalam hati kawan
"JIKA ADA SERIBU ORANG YANG MENYUARAKAN KEBENARAN, MAKA PASTIKANLAH AKU SATU DIANTARANYA. JIKA ADA SEPULUH ORANG YANG MENYUARAKAN KEBENARAN, MAKA SAKSIKANLAH AKU SATU DIANTARNYA. DAN JIKA HANYA ADA SATU ORANG YANG MENYUARAKAN KEBENARAN, MAKA PASTIKAN DAN SAKSIKANLAH ITU ADALAH AKU"

Rabu, 02 Maret 2016

Hari ini dan hari kemarin sama saja, sama-sama dosen pengajar nya tidak masuk, apakah mereka sedang sibuk dengan pekerjaan prioritas mereka diluar sana atau mereka lupa mereka memiliki jadwal mengajar hari ini atau mungkin mereka sudah malas karena sudah punya banya uang?hehe yang terakhir itu cuma bercanda, serius juga gak apa apa. Ditelpon berkali-kali hanya memberikan jawaban yang memusingkan mahasiswa.
Inilah satu permasalahan dari sekelumit masalah yang ada di fakultas ini, fakultas ekonomi dan bisnis, fakultas dengan mahasiswa terbanyak di Unikarta ini.
Setelah saya analisa, ada banyak kemudian kejanggalan-kejanggalan yang saya lihat. Yang pertama adalah tidak adanya sinergitas antara mahasiswa dengan pihak fakultas, maksud saya adalah kurangnya dukungan dari pihak fakultas untuk mahasiswa yang ingin menyalurkan kreatifitasnya, baik secara moril maupun materil. Sehingga yang terjadi saat ini adalah stagnansi di seluruh mahasiswa, mereka hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang). memang banyak mahasiswa yang memiliki kesibukan diluar sana, namun tak sedikit juga dari mahasiswa yang ingin menyalurkan kreatifitasnya tapi tidak difasilitasi dengan baik. Yang kedua adalah ketidak objektifan dosen dalam memberikan penilaian kepada mahasiswa. Saya sebenarnya tidak mengerti apa yang dinilai dari mahasiswa agar mendapat nilai yang baik. Apakah kemampuan mahasiswa menyerap materi? Saya rasa bukan, melihat banyak mahasiswa yang sangat baik dalam memahami materi tapi tetap saja nilainya buruk. Apakah intensitas kehadiran? Bukan juga, kendatipun mahasiswa setiap minggu hadir, lagi-lagi nilai yang muncul tidak juga sesuai harapan. Apakah keaktifan? Atau apakah kesopanan, atau mungkin dari cara kita "menjilat" dosen yang menentukan kita bisa dapat nilai. Entahlah, karena berapa mahasiswa juga telah memenuhi hampir memenuhi semua kriteria tersebut tapi masih mengecewakan. Ironisnya mahasiswa yang dirasa biasa-biasa saja dalam segala hal, malahan memperoleh nilai yang tinggi. Sangat membingungkan saya rasa. Yang ketiga, sepertinya kurang cocok ketika faklutas ini mengadakan atau memberi nama jurusan ini dengan nama  "manajemen", Alih-alih jurusan manajemen, namun sangat kecolongan diwilayah manajemen pada realisasi memenej seluruh aspek dalam dirinya.
Agar tulisan ini tidak cenderung memihak kepada mahasiswa, saya juga ingin menyinggung para mahasiswa yang sudah kehilangan identitasnya sebagai mahasiswa. Mahasiswa dikenal dengan jiwa idealisnya, yang berpungsi sebagai penyambung lidah rakyat, tapi pungsi itu telah hilang secara total dalam diri mahasiswa. Jangan kan ingin menyambung lidah masyarakat, diri mereka sendiri saja yang sudah tenggelam, tidak bisa mereka selamatkan. Oleh karena itu, pihak yang paling berperan dalam mencapai tujuan akademisi adalah pada diri mahasiswa itu sendiri. Kita asyik dengan nyanyian melow yang hanya memunculkan kegalauan, sibuk dengan gaya-gaya terkini yang harus diikuti, diperbudak oleh gadget ciptaan manusia diluar sana yang semakin kaya tiap detiknya sampai lupa apakah sudah makan atau belum. sangat persis seperti prediksi nabi bahwa kuantitas banyak, tapi juga sebagai sasaran empuk untuk dinina bobokkan, disuapi, kemudian terlelap dalam tidur, perlahan digoreng dan disajikan di meja makan oleh kaum-kaum yang berkuasa.